Home » , » Kritik Seni Rupa (Seni Lukis)

Kritik Seni Rupa (Seni Lukis)

Posted by Kamar Pekick on Thursday, 22 March 2018

A. Pengertian Kritik Seni Rupa (Kls X))
Untuk dapat memahami dan membuat kritik karya seni rupa, terlebih dahulu kamu harus memahami pengertian dan kegiatan apresiasi karya seni rupa terlebih dahulu. Apresiasi atau mengapresiasi karya seni  berati memahami sepenuhnya seluk beluk karya serta peka terhadap segi estetika karya seni. Kegiatan apresiasi dapat juga dikatakan sebagai upaya untuk memahami berbagai hasil karya seni dengan berbagai permasalahannya serta menjadi lebih sensitif terhadap nilai-nilai estetika yang terkandung di dalamnya. Dengan lebih memahami dan menyadari sepenuhnya seluk beluk suatu hasil karya seni serta menjadi lebih peka terhadap segi-segi estetikanya seseorang diharapkan dapat menikmati dan menilai karya seni tersebut dengan semestinya.

Kegiatan apresiasi memiliki dua fungsi, yang pertama yaitu agar kita dapat memupuk dan meningkatkan kecintaan terhadap karya seni bangsa sendiri dan sekaligus kecintaan terhadap sesama manusia. Yang kedua adalah fungsi apresiasi yang bersifat khusus, maksudnya ada hubungannya dengan kegiatan mental kita yaitu penikmatan, penilaian, hiburan dan empati. Apresiasi seni juga memiliki manfaat besar bagi ketahanan budaya Indonesia. Melalui kegiatan apresiasi karya seni Indonesia, kamu dapat memahami dan menghargai budaya bangsa sendiri.

Pengertian kritik dalam seni bukan berarti sebagai kecaman yang menyudutkan hasil karya atau penciptanya. Hampir sama dengan kegiatan apresiasi, kritik seni pada dasarnya adalah kegiatan menanggapi hasil karya seni. Perbedaanya adalah hanya pada fokus dari kritik seni yang bertujuan untuk menilai dan menunjukkan kelebihan dan kekurangan suatu karya seni. Penilaian kelebihan dan kekurangan ini digunakan dalam berbagai aspek, terutama sebagai bahan untuk menunjukkan kualitas sebuah karya seni. Umumnya para ahli seni beranggapan  bahwa kegiatan kritik seni dimulai dari kebutuhan untuk mengapresiasi kemudian meningkat pada kebutuhan untuk memperoleh kesenangan dari kegiatan perbincangan berbagai hal yang berkaitan dengan karya seni tersebut.

Kritik karya seni tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan kualitas pemahaman dan apresiasi terhadap karya seni, tetapi juga digunakan sebagai standar untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil berkarya seni. Tanggapan dan penilaian terhadap hasil karya seni yang disampaikan oleh seorang kritikus seni ternama sangat mempengaruhi persepsi penikmat terhadap kualitas karya seni dan bahkan dapat mempengaruhi nilai ekonomis karya seni tersebut.

Dalam dunia pendidikan, kritik seni berfungsi sebagai kegiatan untuk mengevaluasi proses pembelajaran seni. Kekurangan dan kelemahan sebuah karya dapat dijadikan sebagai bahan analisis untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan hasil pembelajaran seni tersebut.

Jenis Kritik Seni
Kritik karya seni mempunyai perbedaan kualitas dan tujuan. Karena perbedaan tersebut, dapat dijumpai perbedaan beberapa jenis kritik karya seni berdasarkan pendekatannya seperti yang disampaikan Fieldman (1967), yaitu;

1. Kritik Jurnalistik (Journalistic Criticism)
Kritik jurnalistik adalah jenis kritik seni yang penilaian atau hasil tanggapannya disampaikan secara terbuka kepada masyarakat melalui media massa. Kritik jurnalistik biasanya sangat cepat mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap kualitas sebuah karya seni, terutama karena penilaian atau hasil tanggapannya (kritik) disampaikan melalui media masa.

2. Kritik Populer (Popular Criticism)
Kritik populer adalah jenis kritik seni yang tujuannya untuk konsumsi umum/ masyarakat. Tanggapan yang disampaikan melalui kritik populer biasanya bersifat umum atau lebih kepada pengenalan atau publikasi sebuah karya seni. Kritik jenis ini umumnya menggunakan gaya bahasa dan istilah-istilah sederhana sehingga mudah dipahami masyarakat awam.

3. Kritik Keilmuan (Scholarly Criticism)
Kritik keilmuan adalah kritik seni yang bersifat akademis dengan wawasan pengetahuan, kepekaan, serta kemampuan kritikus yang tinggi untuk menilai dan menanggapi sebuah karya seni. Kritik keilmuan umumnya disampaikan oleh seorang kritikus yang sudah teruji kemampuannya dalam bidang seni atau kritik yang disampaikan sudah mengikuti metodologi atau kaidah-kaidah kritik secara akademis. Hasil tanggapan melalui jenis kritik ini biasanya dijadikan sebagai referensi bagi para kolektor atau kurator institut seni seperti galeri seni, museum seni, dan balai lelang.

4. Kritik Pendidikan (Pedagogical Criticism)
Kritik pendidikan adalah kritik seni yang bertujuan untuk mengangkat atau meningkatkan kepekaan artistik dan estetik subjek belajar seni. Kritik pendidikan umumnya digunakan di lembaga pendidikan seni terutama untuk meningkatkan kualitas hasil karya seni yang dibuat oleh peserta didiknya. Di sekolah umum termasuk kritik jenis inilah yang digunakan oleh guru dalam penyelenggaraan mata pelajaran pendidikan seni.

Selain Keempat bentuk kritik seni di atas, dikenal pula beberapa bentuk kritik, yaitu;

1. Kritik Formalistik
Jenis kritik ini dilakukan melalui pendekatan formalistik, kajian kritik ini ditujukan terhadap karya seni dalam hal susunan aspek-aspek formalnya atau yang berkaitan dengan unsur-unsur pembentuknya. Sebagai contoh dalam hal karya lukis, sasaran kritik ditujukan pada kualitas komposisi unsur-unsur visual seperti garis, warna, tekstur dan sebagainya dalam karya seni tersebut.  Kritik formalistik berkaitan dengan kualitas teknis dan kualitas bahan yang digunakan dalam berkarya seni.

2. Kritik Ekspresivistik
Jenis kritik ini dilakukan melalui pendekatan ekspresiivistik, pada kritik ini, kritikus lebih cenderung menilai dan menanggapi kualitas gagasan dan perasaan yang ingin disampaikan seniman melalui karya seninya. Kegiatan kritik seni ini pada umumnya menanggapi keterkaitan dan kesesuaian antara judul, isi, tema, dan visualisasi objek yang ditampilkan dalam sebuah karya seni.

3. Kritik Instrumentalistik
Jenis kritik ini dilakukan melalui pendekatan instrumentalistik, kritik ini cenderung menilai karya seni berdasarkan kemampuannya dalam mencapai tujuan religius, moral, psikologis atau politik. Pada prakteknya, jenis kritik ini penggunaannya disesuaikan dengan jenis dan tujuan pembuatan karya seni rupanya.

Fungsi Kritik Seni Rupa
Kritik karya seni rupa memiliki peran yang sangat penting dalam dunia pendidikan maupun dunia seni rupa. Fungsi kritik seni rupa yang paling utama adalah menjembatani apresiasi dan persepsi artistik dan estetik karya seni rupa, antara perupa, karya dan juga penikmat seni. Komunikasi antara karya dengan penikmat seni akan menimbulkan timbal balik antara keduanya. Bagi perupa, fungsi kritik seni adalah untuk mendeteksi kelemahan, membangun kekurangan, serta mengupas kedalaman pada karya seninya. Sedangkan bagi penikmat seni, fungsi kritik seni adalah untuk membantu memahami karya, serta meningkatkan pengetahuan dan wawasan terhadap karya yang berkualitas.
Sumber :SeniBudayaku.com.

B. CONTOH KRITIK SENI LUKIS
 
1. Deskripsi Karya
Lukisan karya pelukis Mulyo Gunarso ini berjudul “Impian Sarang”. Karya ini digarap pada tahun 2012 dengan ukuran 130x150 cm menggunakan cat akrilik pada kanvas. Lukisan yang berjudul “Impian Sarang” tersebut menampilkan subject matter sebuah sarang burung dengan keadaan alam yang indah di dalamnya. Alam yang digambarkan berupa gunung dan persawahan yang keadaannya masih alami dan indah. Subjek pendukung pada lukisan berupa pohon kering tau mati yang terlihat seperti habis dibakar dan awan pada background yang digarap secara transparan. Unsur warna yang terdapat pada subject matter adalah : warna coklat pada sarang, warna hijau pada pepohonan, kuning pada sawah dan biru keabu-abuan untuk warna gunung. Sedangkan untuk background, terdapat warna putih dan abu-abu yang terlihat transparan.
 
Dari segi teknik pembuatan karya, lukisan “Impian Sarang” digarap dengan teknik dry brush yaitu teknik sapuan kering. Bentuk atau form dari karya Gunarso ialah realistik dengan gaya surealisme. Proses penciptaannya terlihat penuh persiapan dan cukup matang tercermin dari hasil karyanya yang rapi, rumit, dan tertata. Gunarso sepertinya asyik bermain-main dengan komposisi. Ia mencoba menyampaikan kegelisahanya dalam bentuk karya dua dimensi yang menyiratkan segala kegelisahan melalui torehan kuas di kanvas dengan pilihan warna- warna yang menjadi karakter dalam karya lukisnya.  

2. Analisis Formal
Representasi visual ditampilkan dengan bentuk realis yang terencana, tertata dan rapi, sesuai dengan konsep realis yang menyerupai bentuk asli suatu objek. Penggunaan gelap terang warna juga telah bisa memvisualisasikan gambar sesuai nyata. Penggarapan background yang transparan dengan warna abu-abu kontras dengan warna sarang yang entah disadarinya atau tidak. Sehingga jika dilihat dari kejauhan, background itu sendiri malahan lebih menarik perhatian audien dari pada subjek utamanya.
Dalam berkarya Gunarso mampu mengemas karyanya hingga memiliki karakter tersendiri yang mencerminkan bagian dari kegelisahan, latar belakang serta konflik yang disampaikan kepada audien, bagaimana dia mampu menarik dan memancing audien untuk berinteraksi secara langsung dan mencoba mengajak berfikir tentang apa yang dirasakan olehnya tentang issu yang terjadi di dalam negerinya, kegelisahan tentang kerusakan yang semakin parah.

3. Interpretasi
Dalam setiap karya seni sudah pasti terdapat makna dan pesan yang ingin disampaikan oleh seniman kepada audien atau masyarakatumum. Agar dapat mengetahui makna dan pesan dalam karya seni yang ingin disampaikan, kita membutuhkan intepretasi/ penafsiran untuk memaknainya yang didahului dengan mendeskripsikan. Dalam mendeskripsikan suatu karya seni, setiap orang mungkin saja sama karena mendeskripsikan adalah berkaitan dengan apa yang dilihatnya, tetapi dalam menafsirkan akan berbeda karena adanya perbedaan sudut pandang atau paradigma dari setiap orang.
 
Dalam lukisan yang berjudul “Impian Sarang” ini, sang seniman mencoba menampilkan keadaan negeri yang telah banyak kerusakan. Kerusakan tersebut digambarkan pada background yaitu pohon-pohon yang kering tak berdaun dan mati yang seperti terlihat habis dibakar. Selain itu, seniman juga menampilkan gambar asap atau awan yang menggambarkan polusi udara yang dihasilkan dari pabrik, gas buang kendaraan bermotor, dan juga pembakaran hutan yang sering terjadi di negeri kita. Sebenarnya kerusakan yang sudah terjadi di negeri kita bukan hanya pembakaran hutan yang mengakibatkan polusi udara yang parah, tetapi masih banyak lagi seperti banjir, tanah lonsor, kekeringan dan lain sebagainya. Pada lukisan ini seniman memilih pembakaran hutan sebai gambaran kerusakakan negeri kita karena  setiap tahun hal itu terjadi dan terus berulang-ulang.
 
Kemudian pada lukisan ini juga terdapat sebuah sarang burung dengan keadaan alam yang indah di dalamnya. Sarang burung ini diibaratkan oleh seniman sebagai bumi atau negeri kita, yaitu sebagai tempat tinggal, tempat berlindung dan tempat beraktivitas sehari-hari. Sedangkan alam yang indah merupakan impian dari keadaan negeri kita yaitu tanah yang subur, udara yang segar tanpa polusi, air yang jernih dan keadaan yang damai. Keadaan seperti itulah yang sebenarnya diimpikan oleh seniman pada negeri kita.
Perkembangan zaman yang begitu pesat mengakibatkan manusia menjadi serakah, egois, individualis dan acuh tak acuh terhadap sesama juga terhadap alam. Hal inilah yang mengakibatkan kerusakan di negeri kita. Gunarso lewat karya lukisannya ini seolah ingin memberi penyadaran kepada kita, untuk memulai menyelamatkan dan melestarikan alam negeri kita.

5. Penilaian
Penialaian keindahan suatu karya seni tidak hanya berdasar objek yang dilukis tetapi juga menyangkut isi dan makna. Pada lukisan “Impian Sarang” ini merupakan karya yang berkualitas, karena selain unsur visualnya digarap dengan serius, lukisan ini juga sarat akan pesan moral. Lukisan ini tidak memesis mutlak tanpa makna, karena dalam lukisan ini terdapat emosional dan personality Gunarso untuk menyampaikan gagasan.

Thanks for reading & sharing Kamar Pekick

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment