Home » » Seni Rupa (Seni Lukis)

Seni Rupa (Seni Lukis)

Posted by Kamar Pekick on Sunday, 25 February 2018

Lukisan Pangeran Dipenogoro Karya Basuki Abdullah

A.Seni Lukis
Jika dilihat dari sisi teknis, lukisan merupakan penggunaan pigmen atau wama dengan menggunakan bahan pelarut yang dibubuhkan di atas permukaan bidang dasar, misalnya pada kanvas, sebagai media untuk menghasilkan sensasi atau ilusi ruang, tekstur, gerakan, untuk mengekspresikan berbagai makna atau nilai subjektif, baik yang bersifat emosional, intelektual, simbolik, relegius, dan lain sebagainya.

Seorang pakar seni lukis, Herbert Read mengatakan bahwa seni lukis merupakan penggunaan garis, warna, tekstur, ruang dan bentuk, shape, pada suatu permukaan, yang bertujuan untuk menciptakan berbagai gambar, dan gambar-gambar tersebut bisa merupakan hasil ekspresi dari ide-ide, emosi, dan pengalaman-pengalaman, yang dibentuk sedemikian rupa sehingga tercapainya harmoni. Adapun pengalaman yang dituangkan dalam lukisan adalah pengalaman yang berisi keindahan atau pengalaman estetika.
Menurut seorang pakar seni lukis lain yang bernama Edmund Burke Feldman, peng-ekspresian itu menggunakan :
-Unsur-unsur visual, yang terdiri atas garis, warna, bentuk, tekstur dan ruang atau gelap terang
-Organisasi dari unsur-unsur tersebut, yang meliputi kesatuan, keseimbangan, irama dan perbandingan ukuran.

Seorang kritikus seni rupa bernama Dan Suwaryono mengemukakan bahwa seni lukis memiliki dua faktor.
Faktor Ideoplastis: ide, pengalaman, pendapat, emosi, fantasi, dan lain-lain. Faktor ini lebih bersifat rohaniah sebagai dasar penciptaan seni lukis.
Faktor Fisioplastis: yang meliputi hal-hal yang menyangkut masalah teknis, termasuk organisasi elemen-elemen visual seperti garis, ruang, warna tekstur, bentuk dengan prinsip-prinsipnya. Faktor ini lebih bersifat fisik dalam arti seni lukisnya itu sendiri.

Seni lukis merupakan wujud ekspresi yang harus dipandang secara utuh. Keutuhan wujud itu, terdiri atas ide dan organisasi elemen-elemen visual. Elemen-elemen visual tersebut disusun sedemikian rupa oleh seniman lukisan dalam bidang dua dimensi.
Pengertian seni lukis sebenarnya mencakup ruang lingkup yang lebih luas dari sebuah definisi, karena seni lukis juga memiliki beragam istilah, misalnya lukisan dinding, lukisan miniatur, lukisan puisi, lukisan jambangan, lukisan mozaik, lukisan potret, lukisan manuskrip, lukisan enamel, lukisan kaca, lukisan teknologi yang dibuat dengan menggunakan media elektronik, seperti komputer (vector art), dikerjakan dengan komputer, dan hasilnya cukup realistis di bandingkan dengan lukisan ekspresionisme.

Jenis lukisan yang ukurannya lebih kecil dari lukisan dinding atau mural. Sejenis seni lukis yang lebih fleksibel, karena para seniman pelukis dapat membawa ide dan gagasannya itu ke berbagai lokasi untuk melakukan karya melukis di alam bebas, di samping itu, dapat pula digunakan berkarya di studio seni lukis.
Berikut ini disajikan beberapa hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan seni lukis.

2. Unsur Visual
a. Garis
Sebuah titik dalam ukuran kecil sudah punya tenaga yang cukup untuk merangsang mata dan dapat berperan sebagai sebuah awal. Jika titik tersebut digerakkan, maka dimensi perpanjangnya akan jadi tampak lebih menonjol dan sosok yang ditimbulkannya disebut dengan garis. Garis bisa berupa goresan yang dibuat di permukaan sebuah bidang, akan tetapi garis dapat juga mewakili sebuah tongkat, tiang bendera, kawat, pancaran sinar, sebilah tombak, ruang antara dua bangunan atau dinding, jalanan, sungai, kontur pegunungan, bangunan, kontur pegunungan, batas dinding dengan lantai, dan seterusnya.

Sebuah garis dapat memberikan kita kesan gerak, ide, atau simbol. Pada karya seni lukis, sebuah atau lebih garis dapat mengekspresikan suasana emosi tertentu, misalnya perasaan bahagia, sedih, kacau, bingung, marah, teratur, dan lain sebagainya. Secara fisik garis dapat kita buat tebal, tipis, kasar, halus, lurus, memanjang, pendek, putus-putus, melengkung, berombak, patah-patah dan banyak lagi. Unsur garis juga dapat membangun membangkitkan kesan tertentu, misalnya garis horisontal kesannya tenang, tidak bergerak, dan lebar. Sementara garis vertikal berkesan agung, stabil, dan tinggi, sedangkan garis diagonal berkesan jatuh dan bergerak.

Garis merupakan salah satu elemen yang penting dalam seni lukis. Pedoman seni yang penting sebagaimana juga yang terdapat dalam hidup. Semakin nyata, tajam dan kuat garisnya, maka makin sempurna hasil seninya.
Garis dapat diciptakan melalui
(1) kontur, garis paling luar dari benda yang dilukis,
(2) Batas pemisah antara dua warna atau cahaya terang dan gelap,
(3) lekukkan pada bidang melingkar atau memanjang lurus, dan
(4) batas antara dua tekstur yang berlainan.

Dalam Kebudayaan Timur, para seniman pelukis sangat terpesona oleh kekuatan garis, baik di India, Cina, Jepang, maupun Indonesia. Untuk memahami kekuatan garis dalam seni lukis, bisa kita lihat bahwa lukisan Cina klasik bersifat grafis yang memberikan kesan lembut, puitis, penuh irama yang terkendali, juga menimbulkan efek perasaan tenteram. Sebaliknya jika kita lihat karya-karya dari Vincent van Gogh, ia banyak menggunakan garis pendek, patah-patah yang menimbulkan efek yang keras tegar sehingga menimbulkan kesan ledakan dan pemberontakan. 

Di dunia Barat, bisa kita lihat karya-karya dari Pablo Picasso, Henry Matisse, Paul Klee, Roul Dufi sebagian dari tokoh yang kuat dalam garis. Jika garis digoreskan dengan jujur dan mengikuti kata batin, akan kita temukan identifikasi seseorang. Dengan garis dapat lahir bentuk, tapi juga bisa mengesankan suatu tekstur, nada dan nuansa, ruang dan volume, semua itu akan melahirkan suatu perwatakan.

Dari uraian di atas kiranya dapat dimengerti, bahwa unsur garis dalam suatu lukisan dapat dipergunakan sesuai dengan kebutuhan. Teknik penguasaan dan pengendalian garis dalam seni lukis memang harus memerlukan latihan yang intensif dan berkelanjutan sehingga bakat kita akan berkembang secara optimal.

b. Warna
Seperti yang pernah kita pelajari dalam ilmu fisika, warna ditimbulkan oleh sinar matahari, sinar matahari yang di arahkan ke sebuah kaca prisma akan terurai menjadi beberapa sinar warna, yang disebut spektrum warna. Setiap spektrum mempunyai kekuatan gelombang tertentu yang kemudian sampai pada mata kita, sehingga kita dapat melihat warna tertentu.

Secara fisik, ada dua jenis penerima cahaya, yakni sebagai pemantul dan sebagai penyerap cahaya. Secara fisiologi, stimulasi cahaya memantulkan warna suatu objek sehingga dapat merangsang mekanisme mata kita, kemudian rangsangan tersebut disalurkan melalui syaraf optik ke otak, sehingga kita dapat mengenali warna-warna itu.

Telah dibuktikan secara psikologis bahwa warna dapat mempengaruhi kegiatan fisik maupun mental orang yang melihatnya. Reaksi manusia terhadap warna bersifat instingtif (kepekaan) dan perseorangan, karenanya sensitivitas setiap manusia berbeda kepada warna-warna. Pada berbagai aliran seni lukis dalam sejarah seni rupa telah dikenal manifenstasi tata warna tertentu, misalnya skema warna Rembrant, skema warna klasik, dan lain sebagainya. 
Peran warna dalam seni lukis sangat esensial (populer), baik pada masa pra modern, masa modem, maupun masa posmodern.

Pada umumnya para seniman pelukis memanfaatkan warna untuk menyatakan gerak, jarak, ruang, bentuk, tegangan, deskripsi rupa alam, naturalisme, ekspresi atau makna simbolik. Untuk memahami lebih dalam tentang bagaimana peran warna dalam seni lukis, berikut ini akan disajikan sifat warna, notasi warna, warna objek, pigment, yang seluruhnya sangat menentukan kualitas penciptaan sebuah lukisan.

c. Sifat Warna
Dalam teori warna dikenal ada tiga sifat, yaitu: hue, value, dan saturation.
  • Hue merupakan tingkat kepekatan warna, misalnya merah, merah oranye, atau hijau, biru, biru keunguan dan seterusnya. 
  • Value merupakan fenomena kecemerlangan dan kesuraman warna. Nilai rendah menunjukkan warna yang cenderung suram atau kegelapan, sementara nilai tinggi menunjukkan kecenderungan warna yang terang dan cemerlang. Misalnya gejala demikian dapat kita lihat pada skala derajat warna abu-abu dari hitam ke putih.
  • Saturation merupakan intensitas nada warna untuk menunjukkan warna-warna menyala, dan warna-warna yang suram. Semakin murni penggunaan warna semakin tinggi intensitasnya, sebaliknya semakin tidak murni penggunaan warna menyebabkan semakin rendah intensitasnya.
  • Intensitas Warna (Intensity) atau Kualitas Warna;   adalah merupakan tingkat kecerahan atau kemuraman warna. Warna yang cerah adalah warna yang mempunyai kecerahan sinar (spotlight) dan warna yang muram adalah warna yang kusam atau warna yang tidak berkesan memancarkan  sinar.
  • Kontras (Contras);  warna kontras adalah warna yang saling bertentangan atau bertolak belakang tingkat gelap terangnya.
  • Komplementer (Complement); warna komplementer adalah warna yang apabila dicampur antara dua warna akan menjadi gelap/kelabu/hitam kusam. Misalkan ; merah x hijau, biru x jingga, kuning x ungu
  • Monokrom (Monocrome); warna monokrom adalah warna yang masih sejenis atau masih sekeluarga. Warna monokrom contohnya adalah keluarga warna merah, maka terdiri dari warna : merah hitam, merah coklat, merah gelap, merah jernih (primer), merah muda, merah jambu, merah jambu muda, dan seterusnya.
  • Monoton (Monotone); warna monoton adalah warna yang memiliki gelap terang yang senada. Contoh warna monoton adalah warna-warna gelap seperti coklat, hijau tua, biru tua, dan merah tua. Warna-warna terang seperti warna cream, kelabu, kuning gading, pink, biru laut, dan hijau pupus.
  • Analog (Warna berdekatan); warna analog adalah warna-warna yang tidak kontras dan komplementer, dan jika dicampur menjadi warna yang bagus/matang. Contoh analog warna adalah warna biru berdekatan dengan warna merah/ungu/merah keunguan atau biru berdekatan dengan kuning/hijkau/hijau kekuningan.
  • Warna Hangat-Dingin (Colour Condition); warna hangat adalah warna yang mengandung warna merah/warna yang terang. Warna dingin adalah warna yang mengandung warna biru/putih atau redup.
Pada tahun 1940-an seni lukis Affandi menggunakan warna-wama suram atau kusam secara dominan,tapi  kemudian lukisannya berkembang kepenggunaan warna-wama cerah.
.
Arti warna sebagai simbolik yaitu :
Merah       : berani, semangat, gairah, cinta.
Orange      : kering, gersang, kebahagiaan, kegembiraan, ranum.
Kuning    : emas, kemuliaan, keagungan, kemewahan, biasa, cemburu, iri, benci, ragu-ragu, layu, gugur.
Hijau       : muda, pertumbuhan, perkembangan, harapan, sejuk,makmur, kemenangan.
Biru         : kesetiaan, kebenaran, kesungguhan,dalam, misteri.
Ungu       : kemewahan, kebesaran, duka cita.
Putih       : suci, kosong, bersih, lahir, tak berdosa, menyerahkan diri.
Hitam      : kegelapan, misteri, kematian, ketegasan, kewibawaan, kesungguhan, abadi.

d. Notasi Warna
Dalam pengertian seni lukis, notasi warna merupakan sistem klasifikasi atau identifikasi warna menurut sifat-sifatnya. Dalam konteks ini dikenal Sistem Munsell,  Sistem Plochere, Sistem Ostwald, dan Sistem Maxwell. Tatanan warna dalam the hues of the spectrum terdapat pada warna pelangi di alam.

Sedangkan dalam lingkaran warna, color circle, dapat dilihat warna primer, merah, biru, dan kuning.
  • Warna skunder, adalah hijau, ungu, oranye, dimana ketiganya merupakan hasil pencampuran warna primer. 
  • Warna komplementer letaknya bertolak belakang pada lingkaran warna, misalnya merah dengan hijau, biru dengan oranye, serta kuning dengan ungu. Terang dan gelap diungkapkan dengan warna putih dan hitam. 
  • Sedangkan warna abu-abu merupakan warna netral. Jika hue adalah nilai kecerahan dan kecemerlangan warna, maka chrom adalah sifat kualitas, intensitas, dan kejernihan warna.
Menurut Brewster, warna secara umum dapat digolongkan menjadi tiga kelompok utama antara lain sebagai berikut:
  1. Warna primer  adalah warna dasar atau warna pokok yang terdiri dari warna merah, biru, dan kuning. 
  2. Warna sekunder adalah warna hasil pencampuran seimbang dari warna primer satu dengan lainnya. Warna sekunder terdiri dari warna hijau, jingga, dan ungu 
  3. Warna tersier adalah warna hasil pencampuran warna-warna skunder, atau pencampuran warna primer dengan warna sekunder. Contoh warna sekunder adalah warna ungu kemerahan, ungu kebiru-biruan, hijau kebiru-biruan, hijau kekuning-kuningan, jingga kekuning-kuningan, jingga kemerah-merahan.
e. Warna-Warna Antara
Setelah warna primer, warna skunder, dan warna komplementer, dikenal pula warna-warna antara (intermediate color), contoh warna-warna antara ini adalah merah oranye, merah ungu, biru ungu, hijau biru, kuning hijau, dan oranye kuning. Dalam teori warna, jumlah warna ada delapan puluh warna.

f. Warna Hangat dan Warna Sejuk
Dari lingkaran warna dapat pula ditentukan warna hangat- panas dan warna sejuk-dingin, Warna yang memberi efek kehangatan misalnya warna merah, oranye dan kuning, sedangkan warna hijau dan biru memberikan efek yang menyejukkan.

g. Warna Kromatik dan Akromatik
Warna kromatik (chromatic color), terdiri dan warna hitam, putih, dan abu-abu, selebihnya termasuk warna akromatik (achromatic color), seperti merah, hijau, biru, coklat, oranye dan seterusnya. Dalam seni lukis penggunaan warna tunggal sering diartikan sebagai warna kromatik, sementara penggunaan warna meriah yang menggunakan banyak warna, disebut polychromatic. 
Pengertian ini dapat kita terjemahkan dari pengalaman keseharian, pada saat kita mendekati warna api yang merah, kita tentu merasa hangat, dan jika terlalu dekat kita bisa kepanasan.

Sementara jika seseorang berada di daerah pegunungan yang hijau atau gunung yang kebiruan, ia akan merasakan iklim yang sejuk. Asosiasi kita mengenai pengalaman nyata seperti itu menyebabkan kita mengartikan sifat warna menjadi hangat-panas bagi warna merah, oranye dan kuning, sedangkan efek menyejukkan atau dingin diberikan oleh warna hijau dan biru memberikan.

h. Warna Objek dan Warna Pigment
Warna objek merupakan warna yang terkena sinar warna spektrum, yang mengenai mekanisme mata seorang pengamat adalah warna spektrum tersebut yang memiliki panjang gelombang tertentu dan dipantulkan oleh objek pengamatan. Jika objeknya merah, maka warna spektrum merah dengan panjang gelombang merahlah yang diserap mata pengamat. 
Ini berarti pantulan warna tersebut adalah pantulan warna merah, sedangkan sisanya diserap oleh permukaan objek tersebut. Warna pigment yang berupa bubuk halus yang disatukan dengan zat pengikat merupakan warna cat yang dikenal luas, seperti cat air, cat poster, cat minyak, cat gouache, cat tempera, cat akrilik, dan lain sebagainya.

3. Ruang
Ruang merupakan suatu luasan dari suatu bidang atau permukaan. Dalam Design Elementer disebutkan bahwa ruang bisa dikatakan bentuk dua atau tiga dimensional, bidang atau keluasan. Keluasan tersebut bersifat positif atau negatif yang dibatasi oleh limit. Berbeda dengan pengertian garis, ruang memiliki 2 dimensi tambahan yaitu lebar dan dalam. 
Ruang mempunyai gerakan arah dan ciri umum seperti halnya: diagonal, horizontal, lurus, bergelombang, melengkung dan lain-lainnya. Untuk memperjelas hal tersebut, maka batasan utama yang paling sesuai untuk ruang adalah keleluasaan dari satu bidang atau permukaan yang memiliki bentuk dua dimensional.

4. Tekstur
Pada umumnya pelukis memanfaatkan tekstur yang merupakan kualitas dari suatu permukaan, nilai kesan raba atau berkaitan dengan indra peraba. Suatu struktur penggambaran permukaan objek, seperti buah-buahan, batu, kain, kulit, rambut, barang elektronik, dan lain sebagainya. Tekstur bisa kasar, halus, lunak, keras, berbutir, bisa juga kasar atau licin, teratur, atau tidak beraturan, sesuai dengan kualitas yang akan diekspresikan sang pelukis.

Tekstur bisa dibuat dengan cat yang dicampur dengan bahan-bahan lain di atas kanvas, seperti modeling paste, bubuk marmar, pasir, dan lain lain. Pada umumnya tekstur digunakan tidak untuk semata-mata dari segi teknis, tetapi juga mengacu kepada substansi lukisan, atau ekspresi lukisan. Jika nilai ekspresi merupakan unsur pokok lukisan, maka pemanfaatan tekstur dapat menjadi pendukung nilai ekspresi itu sendiri.

Para pelukis dapat memanfaatkan unsur tekstur untuk variasi, fokus atau kesatuan. Kesemuanya itu dapat terjadi dengan kesengajaan yang dilakukan oleh pelukis, maupun karena sifat dari media itu sendiri yang dipakai ketika melukis. Dalam kaitannya dengan para pelukis formalis, maka fungsi tekstur dapat berubah sebagai unsur yang berdiri sendiri, artinya tidak ada berkaitan dengan tujuan eksternal tertentu, bagi mereka penggarapan tekstur semata-mata untuk mencapai efek estetis dalam kesatuan lukisan.

Jika seseorang mengamati permukaan suatu lukisan dan mendapat kesan kasar, kemudian meraba lukisan tersebut dan ternyata benar-benar kasar. Atau sebaliknya kesan pengamatan memberi kesan halus, ketika diraba ternyata juga halus, maka jenis tekstur seperti itu disebut tekstur nyata (actual texture), karena antara hasil pengamatan dengan kenyataan memiliki kualitas yang sama.

Jika seseorang mendapat kesan kasar pada pengamatan permukaan objek lukisan, sementara hasil perabaannya sesungguhnya halus, atau kesan pengamatan halus dan kesan raba kasar, maka jenis tekstur seperti ini disebut tekstur semu (simulated texture atau synthetic texture), Karena antara hasil pengamatan dengan kenyataan sesungguhnya tidak sama tapi berbeda atau tidak nyata. Biasanya tekstur seperti ini dihasilkan dari efek permainan warna, pola, nada, dan garis.

5. Bentuk
Semua karya seni rupa tentu memiliki bentuk, apakah bentuk tersebut realistik atau abstrak, representasional atau non representasional, dirancang dengan cermat atau dihasilkan dengan spontan. Apapun jenis dan aliran seni lukis, semuanya merupakan pengorganisasian elemen rupa menjadi bentuk seni. Dalam teori seni, pemakaian istilah bentuk merupakan terjemahan dari bahasa Inggris "shape", sedangkan istilah wujud merupakan terjemahan dari "form".
Bentuk biasanya diartikan sebagai aspek visual, bagian-bagian yang tergabung menjadi satu yang disebut rupa atau wujud. Wujud mengandung pengertian yang khas dalam konteks seni rupa.

Bentuk dalam pengertian seni lukis memiliki banyak segi, ada bentuk figuratif, bentuk semi figuratif dan bentuk non figuratif. Bentuk figuratif bisa menghasilkan bentuk imitatif yaitu berupaya meniru segala bentuk perwujudan benda-benda alam (keindahan alam pegunungan, fauna, flora, pantai, daerah pertanian, potret, dalam setting alamiahnya) atau bentuk-bentuk ciptaan manusia (seperti pabrik, istana, kota, menara, pelabuhan, hotel, dan lain-lain) objek ini di lukis persis seperti keadaan aslinya. 
Karya-karya yang dihasilkan dengan sendirinya secara alami cenderung menjadi naturalisme atau realisme. Jika kehadirannya dipicu oleh kehidupan bawah sadar penciptaannya, maka bisa pula menciptakan karya-karya surialisme seperti pada karya-karya Sudibio, Salvador Dali, atau Ivan Sagito.

Bentuk semi figuratif antara lain bentuk distorsif, bentuk yang telah dirubah dari bentuk asal menjadi bentuk yang lebih estetis sesuai dengan cita rasa penciptanya. Dengan gaya perseorangan yang khas bisa dihasilkan dengan teknik pemanjangan, pemendekan, peninggian, pemiringan, dan perubahan-perubahan lain dari objek yang dilukis, semuanya ditujukan untuk maksud-maksud tertentu sebagai pengungkapan pengalaman seni perseorangan.

Juga dikenal bentuk geometris, teknik pelukisan yang menghadirkan bentuk-bentuk yang tertib, teratur, dengan pengulangan objek atau motif tertentu sesuai dengan kebutuhan. Bentuk dalam konteks ini bisa dihasilkan dari analisis bentuk alam menjadi bentuk dasar dengan kebebasan yang bervariasi, seperti lukisan kubisme, optical art dan sejenisnya.

Karya yang dihasilkan bisa semi figuratif, dan bisa pula menjadi abstrak geometris, apabila bentuk lukisan tidak lagi menggambarkan bentuk-bentuk yang bisa diamati dalam kehidupan keseharian. Jika pelukisan menjadi bidang warna yang datar dalam karya maka bentuk-bentuk yang dihasilkan menjadi neo plastisisme, seperti karya Piet Mondrian, atau color field painting, seperti karya Ellswort Kelly.

Sebaliknya jika pelukisannya disertai unsur emosi maka akan menjadi abstrak ekspresionisme seperti karya Jackson Pollock. Atau jika bentuk itu tidak berupaya mencapai efek tiga dimensional disebut bentuk dekoratif, seperti lukisan-lukisan tradisional Bali, atau karya-karya Kartono Yudhokusumo, Mulyadi W. Batara Lubis dan lain-lain.

Sumber belajar : https://www.slideshare.net/MuhammadAmarRahman/ seni-budaya-bab-2-berkarya-seni-rupa
                          : https://www.slideshare.net/ladieska/k11-s1-bs-senbud 
                          : http://www.academia.edu/35447576/Unsur-unsur_Kreativitas

Thanks for reading & sharing Kamar Pekick

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment