Home » , » Pertanyaan untuk Mu Wahai Sepi!

Pertanyaan untuk Mu Wahai Sepi!

Posted by Kamar Pekick on Saturday, 6 May 2017

Silahkan baca selengkapnya di-> Kompasiana 
Sepi, adalah bagian dari jiwaku dan juga bagian dari mereka yang perasa.
Sepi menyeruak ketika aku tampak berdiri seorang diri seperti berada ditengah-tengah luasnya  gurun pasir.
Sejauh mata memandang hanya terlihat hamparan pasir dan gunung-gunung kuning tanpa dihiasi pohon-pohon hijau.
Oh aku bagaikan manusia yang terasing dari keramaian.

Dari kejauhan ku dengar desiran angin yang bernyanyi lirih,
Lalu ia mulai mendekat dan menghempaskan ribuan butir-butir pasir menutup jendela penglihatan.
Perih, Pedih itulah yang terasa, ketika tangan ini tak sempat membentengi terjangannya,
Bak orang-orang yang memandang dengan sebelah mata, tak berarti bahkan tak berguna.

Hampa, adalah bagian dari hatiku dan juga bagian dari hati mereka yang merasa.
Ketika ketentraman dan kedamaian tak lagi dapat dirasa, jauh pergi meninggalkan setiap keinginan,
Lalu memudarkan secercah harapan yang tersisa bak melintasi mulut gua yang gelap gulita.
Yang terdegar hanyalah suara tetesan air yang terjatuh menghujam bebatuan dari langit-langit yang bersarangkan binatang malam.

Aku ingin mengusir sepi agar ia tak singgah kembali,
Tapi aku tak punya daya kekuatan untuk melakukannya seolah-olah ia lebih perkasa dari kehendakku.
Apakah benar hati dan pikiran itu selalu bertarung ? apakah mereka selalu bertentangan ?
Mungkinkah karena itu, sehingga sepi dapat menelusup masuk diantara celah-celah keduanya kemudian menghasut dari salah satu diantara mereka ?

Dan aku jua masih tak mengerti tentang kehadirannya,
Tiba-tiba ia datang begitu saja tanpa pernah disadari.
Dikala aku sedang merasa senang, ia datang tanpa permisi dalam waktu yang begitu cepat,
Sehingga dapat membuat pikiranku terpecah belah dari suasana hati yang riang.

Mungkinkah dari sebait kata dapat menghadirkan sepi ?
Ataukah karena rasa hati yang bosan sehingga ia terasa terpanggil kemudian hadir ?
Aku tak tahu cara untuk memadukan keduanya antara hati dan pikiran.
Aku tak mengerti menyelaraskannya dan aku pun tak mampu mendamaikannya.

Bila sepi itu datang kemudian hampa ikut merasuk,
Semua yang ku lakukan seakan-akan tiada berguna lagi, sia-sia semuanya.
Kecewa, amarah menghiasi dinding hati, pikiran tak lagi terang, suram dibuatnya.
Badan seakan lumpuh, terdiam terpaku karenanya, kata-kata tak lagi bermakna.
Resah, gundah lalu bimbang.
Semestinya tiada kata terucap disaat begini.


Thanks for reading & sharing Kamar Pekick

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment